Keberkahan (Barakah)

Secara bahasa, barakah bermakna ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan) dan tsubutul khair (menetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu). Sesuatu yang berkah tidak selalu diukur dari jumlah atau kuantitas fisiknya, melainkan dari manfaat, ketenangan, dan kebaikan yang dihasilkannya.

  • Harta yang berkah mungkin sedikit, namun mencukupi dan membawa ketaatan.
  • Waktu yang berkah terasa lapang dan menghasilkan banyak amal produktif.

Allah SWT mengaitkan keberkahan secara langsung dengan keimanan dan ketakwaan penduduk suatu wilayah.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah (keberkahan) dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keberkahan juga hadir melalui kejujuran dalam muamalah (interaksi sosial/bisnis).

"Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk membatalkan atau melanjutkan) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (kondisi barang), maka diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, maka dihapus keberkahan jual beli mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keridhoan (Ridha)

Keridhoan Allah adalah kerelaan, penerimaan, dan kecintaan Allah terhadap hamba-Nya. Ini adalah kebalikan dari murka (marah). Dalam pandangan akidah Islam, meraih ridha Allah adalah pencapaian tertinggi, bahkan lebih mulia dan lebih besar daripada kenikmatan surga itu sendiri.

Allah menegaskan bahwa keridhoan-Nya adalah puncak anugerah di akhirat.

"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS. At-Tawbah: 72)

Dalam surat lain, Allah menyebutkan hubungan timbal balik antara hamba yang ridha kepada ketetapan Allah, dan Allah yang ridha kepada amalan hamba tersebut:

"... Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 8)

Rasulullah SAW memperingatkan pentingnya memprioritaskan keridhoan Allah di atas penilaian manusia.

"Barangsiapa mencari ridha Allah sekalipun dengan risiko kemurkaan manusia, maka Allah akan melindunginya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan murka Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia." (HR. Tirmidzi)

Menggapai Keberkahan dan Meraih Keridhoan-Nya

Sebagai seorang mukmin, tujuan utama hidup kita sejatinya bukanlah sekadar mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya atau sibuk mencari pengakuan dari manusia. Lebih dari itu, kita senantiasa memohon agar setiap detik waktu, rezeki, dan interaksi sosial kita diliputi oleh keberkahan—sebuah anugerah berupa kebaikan ilahi yang terus bertambah, yang mampu menghadirkan manfaat serta ketenangan batin.

Pada akhirnya, semua ikhtiar, kejujuran, dan amal saleh yang kita bangun di dunia bermuara pada satu puncak pencapaian tertinggi, yakni meraih keridhoan Allah SWT. Sungguh, apalah arti segala kenikmatan duniawi jika tanpa kerelaan dan kecintaan dari Sang Pencipta? Semoga Allah SWT senantiasa menuntun langkah kita, melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi , serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa Dia ridhai hingga kelak melangkah ke dalam surga-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

Semoga bermanfaat.